Bulan puasa biasanya dijadikan momen untuk menjalin tali silaturahmi.
Terkadang aku agak malas untuk menghadiri rentetan undangan buka puasa bersama. Oke. Tidak rentetan juga sih, sok terkenal sekali aku. Ya beberapa adalah, minimal kawan sd, kawan sma, angkatan di kuliah, dll.
Duh. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mau di ceritakan bagian yang mana. Terlalu panjang, absurd, dan bewarna-warni.
Sampai di suatu momen. Munculah satu lelaki yang sempat hilang selama beberapa saat. Tapi memang itulah dia, hilang timbul hilang timbul bagaikan kotoran mengapung di kali.
Dia muncul lagi, menanyakan kabar. Kemudian seolah tidak pernah terjadi apa-apa, menanyakan kenapa aku sombong sekali tidak pernah mengontaknya lagi. Basa basi.
Seperti sudah diduga. Dia bertanya, kapan aku tidak sibuk. Mengajak untuk buka puasa bersama. Catch up hidup ujarnya.
Catch up hidup? Rasanya ingin aku maki saja. Hey. Sok dekat sekali dirimu. Sekonyong-konyong muncul mendadak mengajak buka puasa bersama.
Kamu kawan lama? Bukan. Seingatku, kita tidak sedekat itu, ajakan-ajakan pergi minum dan berpesta ketika weekend yang selalu mendadak, untungnya tidak satupun yang aku jabani.
Otak dangkalku berkata lain. Kebetulan aku tidak ada kegiatan. Toh aku tidak puasa, jadi ya sama sajalah ajakan buka puasa ini seperti makan malam biasa.
Baiklah. Mari kita 'catch up hidup' sembari mengicip wine dan menonton film di apartmentnya seperti yang iya tawarkan dengan nada kasual. Wine and chill. Terdengar seperti meme 9 gag, sungguh seperti jebakan batman.
Aktifitas menonton film itu berakhir dengan adegan dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan tubuhku. Bodoh. Aku kira aku bisa menanganinya, karena aku pikir aku cukup berpengalaman. Ternyata kali ini lain. Lelaki ini seperti kerasukan. Sungguh tipis adegan yang harusnya cukup intim ini dengan adegan film kriminal pemerkosaan.
Beberapa kali tubuhku diangkat dan dihempaskan. Ditarik dan didorong. Bukan seperti ini akhir yang kuharapkan. Kasar! Ini namanya kekerasan!
Aku takut. Ini diluar batas dan perkiraanku. Aku butuh 911.
Aku punya list 911, ada beberapa nama di dalamnya. Dengan karakter berbeda-beda, tentu harus dipilih juga sesuai dengan momennya.
Momen yang cukup nista dan butuh pertlongan mendesak, tidak gampang diceritakan dan dicerna.
Satu kawanku, sumbu emosinya pendek. Agaknya apabila mendengar cerita ini, dia bisa datang menggedor apartment ini dengan membawa serombongan temannya. Bisa habis lelaki ini. Besok masuk berita.
Oke pilihan lain, satu kawanku, lelaki yang gampang panik, namun terkadang juga tidak harus melakukan apa. Oke. Bukan pilihan tepat.
Terakhir, satu kawanku, agak cuek orangnya namun cukup terbuka untuk menerima kejadian ini. Masalahnya, dia suka terlalu malas bergerak. Ini pilihan terbaik yang aku punya.
Mengirim text singkat ke kawanku, bahwa aku sedang dalam keadaan yang bahaya. Tidak bermaksud berlebihan. Aku panik dan sangat takut. Jantungku mulai berdegup kencang.
Untungnya dia bisa diandalkan dan menyelamatkanku disaat genting ini.
Aku berbohong kepada lelaki brengsek ini, aku bilang ada urusan mendadak sehingga harus pergi saat itu juga.
Sialan. Harga diriku yang tidak seberapa ini, makin berceceran.
Kawanku hanya menghela napas ketika mendengar ceritaku ini. Aku menggerutu, aku bilang padanya. Betapa aku sedih dengan kejadian ini.
Pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya kulontarkan. Mengapa, aku harus mengalami momen-momen seperti ini.
Aku lelah menjadi villa bagi lelaki-lelaki itu. Aku bagai villa di puncak, yang hanya dikunjungi sekali-kali ketika orang ingin menghilangkan rasa penatnya dan berlibur.
Tidak jelek juga sih villa di puncak. Berarti aku bisa menjadi pilihan kesenangan bagi orang lain. Walaupun hanya sesekali.
Namun kali ini, aku ingin menjadi rumah. Rumah tempat orang berpulang setiap harinya.
Comments
Post a Comment