Jadi ingat jaman remaja dulu aku suka sekali menonton film drama tentang bagaimana wanita akhirnya bisa menemukan the man of her life. Hollywood happy ending story. Cheesy memang. Namun, tak ku sangkal, indah sekali apabila bisa punya kisah seperti itu.
Kebanyakan diceritakan, cinta itu butuh pengorbanan.
Aku menjalani banyak kisah-kisah cinta fana. Segala (yang aku kira) pengorbanan itu nampaknya sudah aku lakukan.
Namun, ini sudah jauh bertahun-tahun setelah aku melewati masa remajaku. Aku masih begini-begini saja, sudah banyak juga aku melalui momen-momen menduga bahwa aku telah aku menemukan the man of my life. Salah ternyata. Belum kapok. Aku duga-duga lagi. Masih bukan juga. Sial.
Hari ini hari Jumat, hari yang auranya lebih ringan dibanding hari-hari biasanya.
Bonusnya hari ini, di musim hujan ini, matahari bersinar santai. Tidak terlalu terik dan masih ada semilir angin.
Saat yang tepat untuk turun ke bawah. Bersantai di taman gedung kantorku sembari merokok. Kamu pasti bertanya memangnya aku tidak bekerja? Ya kan bisa curi-curi waktu sedikit untuk membakar sebatang atau dua batang rokok.
Sedikit wanita yang berada di taman saat itu, pengunjung taman didominasi oleh bapak-bapak dan mas-mas.
Aku sedikit melamun, sampai aku sadar ada telepon dari salah satu lelakiku. Tengah malam kan di sana, aku menduga ini pasti dia sedang mabuk, kalau sadar mana pernah dia menelepon.
Suaranya sendu, dia terdengar sadar. Pasti dia batal dari liburannya ke Mexico, aku berprasangka.
Ternyata dia jadi berangkat, ditengah suasana pantai nan santai itu, dia malah menelponku yang ada negara dunia ketiga ini. Harusnya kan dia sedang berpesta pora disana. Celebrate life, baby!
Panjang lebar, rindunya padaku tak tertahankan katanya. Dia ingin aku ada disana. Aku hanya tertawa saja. Aku rindu, ya namun bagaimana? Kebetulan keadaan minim budget untuk berpetualang ke benua lain menghambatku untuk menyusulnya.
Dia bertanya tidakkah aku rindu padanya? Aku bilang tentu saja, tidak perlu ditanya. Aku jawab aku sedikit rindu, sembari tertawa.
Ini kekuranganku, aku kurang pandai menyuarakan ekspresiku lewat obrolan. Faktor suara juga sih, terdengar seperti sedang berbohong karena nadanya bercanda.
Dia merasa telah dibohongi selama ini. Aku si buaya ini sering mengumbar kata-kata 'I love you, baby'. Karena terlihat manis untuk diketik terkadang. Jangan salahkan aku. Ya mungkin memang aku saja tidak tahu makna cinta seperti apa.
Katanya kalau aku benar-benar cinta padanya, I can quit my job, pack my bag, and go to see him or travel the world together for a whole year, ujar lelakiku ini.
Travel around the world for whole year? All expenses covered?
Gila. Ini tedengar seperti adegan di film-film drama itu. Too good to be true! Mana percaya aku, gombalan semata. Terlalu beresiko.
Dia bertanya lagi, apabila aku tidak bisa menyusulnya, dia yang akan menyusulku ke tempat aku berada. Apakah aku bisa meluangkan waktuku untuknya?
Aku hanya tertawa tidak menjawab. Namun aku tahu jawabanku dalam hati. Tidak. Memangnya aku kerja di kantor bapakku. Bisa seenak jidat cuti dua sampai tiga minggu. Jangan lupakan kegiatan berkumpul bersama kawan-kawan dan keluarga.
Bukan berarti aku tidak cinta padanya, ya mungkin memang aku tidak cinta padanya sih, atau definisi kami berbeda. Tidak, aku tidak cinta padanya, aku hanya menikmati keberadaannya, aku menikmati lelaki penghibur. Aku menikmati dipuja.
Aku bilang aku lelah membahas ini. Topik yang bertele-tele untuk dibahas di telpon yang hanya sesekali ini.
'It's hard for you, you know.' Ujarnya terengah, terdengar ambigu. Aku curiga ini bukan membahas empatinya padaku, tentang betapa sulitnya memilih antara kehidupanku yang kubangun disini dan meninggalkan semua untuk hidup dengannya.
Brengsek. Dia sedang membahas tentang organ intimnya yang mulai mengeras.
Aku tidak bisa marah padanya. Disaat perbincangan serius tentang masa depan ini, bisa-bisanya dia curi-curi untuk sekalian memuaskan hasratnya.
Lucu sekali hidup ini, pilihannya antara aku maki dan memutuskan telponnya atau ya aku berbaik hati untuk memandu dan menemaninya saat ini.
Pilihan kedua yang aku ambil.
Pilihan kedua yang aku ambil.
Dari jauh aku mengamati sekelilingku, yang (nampaknya) juga berbalik mengamatiku yang sedang terlihat merokok sembari bercakap-cakap asik di telepon.
Aku jadi berpikir, seandainya benar ada yang mengamati, apakah ada salah satu dari mereka yang menduga aku sedang membahas apa.
Di tengah hari yang cerah ini, merokok di taman penuh orang. Jaraknya cukup aman satu sama lain sehingga aku yakin tidak ada yang mendengarku melakukan kegiatan nista ini.
Coba saja mereka tahu apa yang sedang kulakukan. Sex on the phone dengan zona waktu 15 jam berbeda.
Comments
Post a Comment