Kemana saja ya aku dua bulan ini? Tega sekali menelantarkan blog semata wayangku.
Maaf. Aku mentok, baru menemukan secercah harapan lagi. Sebelumnya, gelap sekali rasanya, menulis separagraf dua paragraf cerita jenaka pun aku tak sanggup.
Diawali hasil test online yang aku ambil beberapa kali enam bulan lalu menunjukkan aku memiliki kecenderungan gangguan mental. Iya, kedengarannya menyeramkan ya diasosiasikan dengan orang-orang yang terganggu mentalnya di jalanan yang biasa kamu temui setengah telanjang itu.
Aku menulis ini dari sudut pandang orang awam dengan pengetahuan terbatas mengenai penyakit jiwa.
Tenti saja aku menolak bahwa aku memiliki kecenderungan penyakit jiwa. Siapa yang mau? Aku merasa semua pergolakan emosi yang kurasakan ini adalah normal. Hingga suatu saat, salah satu kawan terdekatku menyadari ada perilakuku yang mengkhawatirkan baginya.
Apakah itu? Laki-laki, aku gila laki-laki. Iya banyak yang seperti itu, namun ini sudah diluar batas wajar kata kawanku itu. Dia khawatir jika pada akhirnya akulah yang paling tersakiti.
Analoginya adalah aku terjatuh dan ada banyak tangan yang terulur untuk menolong, namun aku menolak menggapai tangan-tangan itu, aku menolak dibantu.
Terserang mood attack ketika berbelanja di mall, aku memutuskan untuk segera pulang tidak mau bertemu dengan orang lain, tidur di kamarku dengan keadaan gelap, memeluk diriku sendiri dan keesokan paginya tidak sanggup memotivasi diri untuk bangun dan pergi ke kantor.
Ada juga hari-hari dimana aku sangat produktif, bisa menghasilkan beberapa draft tulisan dalam sehari. Membeli mesin jahit karena aku ingin bisa membuat bajuku sendiri, serta kencan tanpa henti dengan lelaki-lelaki itu.
Hari-hari dimana aku merasa tidak bisa berfungsi normal sebagai manusia lah yang akhirnya membuatku sadar aku butuh pertolongan. Padahal hari-hari seperti itu sudah lama ku alami, toh nanti ada hari-hari cerah dan bersemangat. Wajar dan normal bagiku. Kali ini aku tertegun, apakah ini benar wajar dan normal, apakah semua orang mengalami hal ini?
Aku akan bertemu psikiater untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Aku takut. Ditemani oleh kawan terdekatku itu aku pergi ke Sanatorium, dia dengan sabar menunggui ku mendaftar untuk bertemu sang dokter dan menyemangati terus karena aku sangat grogi di ruang tunggu Sanatorium itu. Sanatorium, bahasa halus untuk Rumah Sakit Jiwa, iya aku juga baru tahu, aku tahunya Planetarium. Hehe.
Aku bertemu dengan salah satu psikiater terbaik di sana. Sangat kebapakan, hasil pertemuan itu adalah pengobatan berupa mood stabilizer untuk menjaga agar perubahan moodku tidak terlalu ekstrim.
Sudah dua minggu berlalu semenjak aku memulai pengobatan ini. Hasilnya cukup melegakan, aku bisa lebih stabil. Ya walaupun mungkin terdengar membosankan karena banyak inspirasi ceritaku adalah ketika aku berada di fase hypomania.
Hahaha, tenang saja, obat ini tidak jadi membuatku merasakan bahagia fana di hati dan jadi halusinasi, aku tidak akan sekonyong-konyong jadi penulis yang memotivasi kok, Yayuk tetap Yayuk. Mood stabilizer tetap bisa membuatku merasakan rasa senang dan sedih yang hakiki.
Contoh kasus:
Yayuk biasanya merasakan kebahagiaan di level +100 dan kesedihan di -100, sangat ekstrim. Dokter memberikan Yayuk obat untuk menstabilkan mood. Nah, sekarang dijaga di level +35 dan -35 jadi naik turunnya tidak melelahkan seperti biasanya. Berkat pengobatan ini, Yayuk bisa berfungsi normal. Yay.
Comments
Post a Comment